Senin, 30 Desember 2013

PENGARUH TELEVISI BAGI PERKEMBANGAN ANAK





Era globalisasi saat ini membawa banyak pengaruh bagi perkembangan teknologi di seluruh dunia. Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan kita sehari-hari salah satunya televisi. Televisi hampir dimiliki semua orang, baik dari kalangan ekonomi tinggi, sedang, maupun rendah. Televisi adalah salah satu contoh kemajuan teknologi yang menyajikan bagaimana dengan televisi? Rasanya jawabannya begitu mudah, televisi saat ini bukanlah hal yang susah dicari, bukan pula barang mewah yang hanya dimiliki orang - orang tertentu saja.
Di Indonesia berbagai informasi dan hiburan setiap harinya. Di Indonesia sendiri berbagai stasiun telivisi bermunculan bak jamur di musim hujan. Stasiun televisi nasional seperti, RCTI, SCTV, Trans7, Trans TV, tvOne, Indosiar, Global TV, MetroTV, MNCTV, dan antv yang menyajikan berbagai acara nyatanya dengan mudah menarik perhatian banyak orang untuk menghabiskan waktu berjam – jam di depan televisi.  
Dengan televisi, berbagai informasi dibelahan dunia dan apa saja yang terjadi saat ini bisa  kita ketahui hanya dengan menontonnya. Lalu siapa saja yang menjadi penonton setia televisi? Jawabannya begitu mudah, televisi sebagai media hiburan, informasi, dan pendidikan ternyata tidak hanya disukai orang tua saja, anak – anak pun telah menjadi penonton setia televisi. Namun dampaknya tentu saja lebih banyak dialami oleh anak – anak. Dari hasil penelitian, rata – rata anak menghabiskan waktu antara 3 – 3,5 jam perhari untuk menonton televisi. Waktu yang seharusnya lebih banyak digunakan untuk bersosialisasi malah terbuang sia-sia hanya untuk berdiam diri di depan televisi.
            Berbagai acara berbau kekerasan, seks, dan pergaulan bebas banyak menghiasi acara-acara telivisi yang ditonton anak. Keterangan seperti tayangan untuk semua umur(SU), dewasa(D), remaja(R), anak-anak(A), bimbingan orang tua (BO), tidak lagi dipedulikan oleh anak-anak. Kenyataannya keterangan tersebut tidak mampu mempengaruhi pemikiran si anak, padahal itu menentukan suatu tayangan pantas atau tidaknya untuk ditonton oleh anak. Orang tua pun tak jarang melepaskan anak begitu saja saat menonton televise sendiri tanpa memperhatikan apakah acara tersebut cocok dan mendidik kah bagi anak. Pada tahun 2001, Akademi Dokter Anak Amerika mendorong orang tua untuk menemani anak menonton TV dan memantau program televisi yang ditonton anak agar informatif, mendidik, dan tidak berisi kekerasaan.
            Bila anak memilih acara televisi yang berkualitas dan mendidik salah satu contohnya seperti TV edukasi, maka akan dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya. Namun anak cenderung lebih bebas memilih acara yang mereka sukai dibandingkan dengan acara-acara yang dapat mendidik mereka tanpa ada kontrol dari orang tua masing-masing. Berbagai acara televisi seperti sinetron, drama, sitkom, dialog interaktif, kuis, berita, musik, mini seri, gosip dan kartun setiap hari menghiasi layar televisi. Tentunya orang tua seharusnya lebih was-was dalam memilih acara yang layak di tonton oleh anak, karena barbagai dampak negatif pun dengan mudah menyerang anak. Dampak negatif yang sering muncul dalam hal kesehatan antara lain:
·         Sakit mata
Dampak terlalu sering menonton televisi yang sangat dapat dirasakan adalah sakit atau gangguan pada mata. Sakit mata biasa disebabkan  jarak menonton terlalu dekat, si anak tidak lagi mengikuti aturan jarak menonton yang aman yaitu 2 meter. Selain itu bisa pula karena terlalu fokusnya mata pada satu titik saat menonton menyebabkan frekuensi mengedipkan mata berkurang tidak sesering saat tidak menonton televisi, sehingga hal tersebut menyebabkan mata anak tegang dan lelah.
·         Kurang tidur
Biasanya karena terlalu asyik menonton televise, menyebabkan anak lupa waktu. Anak yang biasanya menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi cenderung waktu istirahat dan tidurnya berkurang. Mereka lebih memilih menggunakan waktu istirahat untuk menonton acara favorit mereka.
·         Obesitas
Duduk diam, tidak adanya gerak , tanpa adanya aktivitas lain dan kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkan seperti menonton televisi sambil makan-makanan ringan cenderung menyebabkan resiko obesitas yang tinggi pada anak.
            Selain dampak kesehatan ada pula dampak mental bagi perkembangan anak dikarenakan terlalu sering menonton televisi diantaranya:
·         Memberikan efek negatif pada mental anak. Anak yang menghabiskan banyak waktunya di depan televisi cenderung menjadi anak yang malas belajar, prestasi di sekolah menurun, tinggkat pemahaman materi kurang, dan daya konsentrasi yang rendah.
·         Semakin berkurangnya waktu bersosialisasi dengan dunia luar, sehingga anak cenderung individualis, tidak mau bergabung dengan yang lain, sulit terbuka dengan keadaan yang dialaminya, dan merasa asing dengan lingkungannya sendiri. Padahal masa kanak-kanak adalah masa pembentukan karakter dan kepriadian anak yang paling efektif.
·         Sifat suka meniru apa yang mereka tonton dan cenderung lebih agresif. Tayangan yang begitu beragamnya yang mereka tonton membuat anak mempelajari berbagai karakter tokoh di televisi yang mengarah pada hal-hal berbau negatif seperti kekerasan, ucapan kasar, seks, dan pergaulan bebas.
Hal-hal yang dapat dilakukan orang tua dalam upaya mencegah dampak negatif tersebut bagi anak adalah:
*         Membatasi waktu menonton anak
*         Temani anak saat sedang menonton sendirian
*         Pilih dan jelaskan kepada anak mana tayangan yang pantas dan boleh ditonton
*         Lebih sering mengajak anak melakukan kegiatan-kegiatan positif lainnya dibanding menonton televisi
Manfaatkan kemajuan teknologi ini sebaik mungkin, jangan jadikan alat yang sewaktu-waktu membahayakan kita. Walaupun menonton televisi menjadi gaya hidup yang sulit ditinggalkan, namun ada baiknya kurangi intensitas menonton televisi terlalu lama dan sering, apalagi pada anak. Selain dampak buruknya, ada banyak dampak positif bila anak dan orang tua lebih selektif dalam memilih dan memfilter acara telivisi yang ditonton seperti semakin bertambahnya wawasan, pengetahuan, ilmu, informasi, dan mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui. Orang tua harus berperan aktif dalam perkembangan kepribadian dan karakter anak baik sebagai pemberi tahu, pemberi tanggapan, sebagai cermin, maupun yang memberikan pengarahan pada anak supaya anak memiliki konsep yang jelas dalam menuju proses kedewasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar