Era globalisasi saat
ini membawa banyak pengaruh bagi perkembangan teknologi di seluruh dunia.
Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan kita
sehari-hari salah satunya televisi. Televisi hampir dimiliki semua orang, baik
dari kalangan ekonomi tinggi, sedang, maupun rendah. Televisi adalah salah satu
contoh kemajuan teknologi yang menyajikan bagaimana dengan televisi? Rasanya
jawabannya begitu mudah, televisi saat ini bukanlah hal yang susah dicari,
bukan pula barang mewah yang hanya dimiliki orang - orang tertentu saja.
Di
Indonesia berbagai informasi dan hiburan setiap harinya. Di Indonesia sendiri
berbagai stasiun telivisi bermunculan bak jamur di musim hujan. Stasiun
televisi nasional seperti, RCTI, SCTV, Trans7, Trans TV, tvOne, Indosiar, Global
TV, MetroTV, MNCTV, dan antv yang menyajikan berbagai acara nyatanya dengan mudah menarik perhatian banyak orang untuk menghabiskan waktu
berjam – jam di depan televisi.
Dengan televisi,
berbagai informasi dibelahan dunia dan apa saja yang terjadi saat ini bisa kita ketahui hanya dengan menontonnya. Lalu
siapa saja yang menjadi penonton setia televisi? Jawabannya begitu mudah, televisi
sebagai media hiburan, informasi, dan pendidikan ternyata tidak hanya disukai
orang tua saja, anak – anak pun telah menjadi penonton setia televisi. Namun
dampaknya tentu saja lebih banyak dialami oleh anak – anak. Dari hasil
penelitian, rata – rata anak menghabiskan waktu antara 3 – 3,5 jam perhari
untuk menonton televisi. Waktu yang seharusnya lebih banyak digunakan untuk
bersosialisasi malah terbuang sia-sia hanya untuk berdiam diri di depan
televisi.
Berbagai acara
berbau kekerasan, seks, dan pergaulan bebas banyak menghiasi acara-acara
telivisi yang ditonton anak. Keterangan seperti tayangan untuk semua umur(SU),
dewasa(D), remaja(R), anak-anak(A), bimbingan orang tua (BO), tidak lagi
dipedulikan oleh anak-anak. Kenyataannya keterangan tersebut tidak mampu
mempengaruhi pemikiran si anak, padahal itu menentukan suatu tayangan pantas
atau tidaknya untuk ditonton oleh anak. Orang tua pun tak jarang melepaskan
anak begitu saja saat menonton televise sendiri tanpa memperhatikan apakah acara
tersebut cocok dan mendidik kah bagi anak. Pada tahun 2001, Akademi Dokter Anak
Amerika mendorong orang tua untuk menemani anak menonton TV dan memantau
program televisi yang ditonton anak agar informatif, mendidik, dan tidak berisi
kekerasaan.
Bila
anak memilih acara televisi yang berkualitas dan mendidik salah satu contohnya
seperti TV edukasi, maka akan dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya. Namun
anak cenderung lebih bebas memilih acara yang mereka sukai dibandingkan dengan
acara-acara yang dapat mendidik mereka tanpa ada kontrol dari orang tua
masing-masing. Berbagai acara televisi seperti sinetron, drama, sitkom, dialog
interaktif, kuis, berita, musik, mini seri, gosip dan kartun setiap hari
menghiasi layar televisi. Tentunya orang tua seharusnya lebih was-was dalam
memilih acara yang layak di tonton oleh anak, karena barbagai dampak negatif
pun dengan mudah menyerang anak. Dampak negatif yang sering muncul dalam hal
kesehatan antara lain:
·
Sakit mata
Dampak terlalu sering menonton televisi
yang sangat dapat dirasakan adalah sakit atau gangguan pada mata. Sakit mata
biasa disebabkan jarak menonton terlalu
dekat, si anak tidak lagi mengikuti aturan jarak menonton yang aman yaitu 2
meter. Selain itu bisa pula karena terlalu fokusnya mata pada satu titik saat
menonton menyebabkan frekuensi mengedipkan mata berkurang tidak sesering saat
tidak menonton televisi, sehingga hal tersebut menyebabkan mata anak tegang dan
lelah.
·
Kurang tidur
Biasanya karena terlalu asyik menonton
televise, menyebabkan anak lupa waktu. Anak yang biasanya menghabiskan waktu
berjam-jam di depan televisi cenderung waktu istirahat dan tidurnya berkurang.
Mereka lebih memilih menggunakan waktu istirahat untuk menonton acara favorit
mereka.
·
Obesitas
Duduk diam, tidak adanya gerak , tanpa
adanya aktivitas lain dan kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkan seperti
menonton televisi sambil makan-makanan ringan cenderung menyebabkan resiko
obesitas yang tinggi pada anak.
Selain
dampak kesehatan ada pula dampak mental bagi perkembangan anak dikarenakan
terlalu sering menonton televisi diantaranya:
·
Memberikan efek negatif pada mental
anak. Anak yang menghabiskan banyak waktunya di depan televisi cenderung
menjadi anak yang malas belajar, prestasi di sekolah menurun, tinggkat
pemahaman materi kurang, dan daya konsentrasi yang rendah.
·
Semakin berkurangnya waktu bersosialisasi
dengan dunia luar, sehingga anak cenderung individualis, tidak mau bergabung
dengan yang lain, sulit terbuka dengan keadaan yang dialaminya, dan merasa
asing dengan lingkungannya sendiri. Padahal masa kanak-kanak adalah masa
pembentukan karakter dan kepriadian anak yang paling efektif.
·
Sifat suka meniru apa yang mereka tonton
dan cenderung lebih agresif. Tayangan yang begitu beragamnya yang mereka tonton
membuat anak mempelajari berbagai karakter tokoh di televisi yang mengarah pada
hal-hal berbau negatif seperti kekerasan, ucapan kasar, seks, dan pergaulan
bebas.
Hal-hal yang dapat dilakukan orang tua
dalam upaya mencegah dampak negatif tersebut bagi anak adalah:
*
Membatasi waktu menonton anak
*
Temani anak saat sedang menonton
sendirian
*
Pilih dan jelaskan kepada anak mana
tayangan yang pantas dan boleh ditonton
*
Lebih sering mengajak anak melakukan
kegiatan-kegiatan positif lainnya dibanding menonton televisi
Manfaatkan kemajuan
teknologi ini sebaik mungkin, jangan jadikan alat yang sewaktu-waktu membahayakan
kita. Walaupun menonton televisi menjadi gaya hidup yang sulit ditinggalkan,
namun ada baiknya kurangi intensitas menonton televisi terlalu lama dan sering,
apalagi pada anak. Selain dampak buruknya, ada banyak dampak positif bila anak
dan orang tua lebih selektif dalam memilih dan memfilter acara telivisi yang
ditonton seperti semakin bertambahnya wawasan, pengetahuan, ilmu, informasi,
dan mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui. Orang tua harus
berperan aktif dalam perkembangan kepribadian dan karakter anak baik sebagai
pemberi tahu, pemberi tanggapan, sebagai cermin, maupun yang memberikan
pengarahan pada anak supaya anak memiliki konsep yang jelas dalam menuju proses
kedewasaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar